Luka Jalan Kunti dan Pertaruhan Masa Depan


Sore itu, angin berembus pelan di Gang Kunti. Lampunya redup. Terpal-terpal lusuh yang dipasang seadanya bergoyang ringan. Di bawahnya, seorang anak laki-laki bertubuh kecil duduk memeluk lutut. Tatapannya kosong, seakan menatap sesuatu yang jauh, lebih jauh dari masa depan yang semestinya ia miliki. Namanya Rafi, siswa kelas 2 SMP.


“Kenapa kamu ada di sini?” tanya seorang relawan yang datang mendampingi warga saat penggerebekan berlangsung.


Rafi menunduk. “Aku… cuma ikut teman. Katanya, ini bisa bikin lupa semuanya.”


Jawabannya sederhana, tetapi membuat hati remuk.


Di tempat itu, yang orang-orang menyebutnya kampung narkoba, petugas mendapati 15 pelajar SMP positif memakai narkoba. Bedeng-bedeng kayu kecil menjadi saksi bisu bagaimana remaja kehilangan arah, kehilangan pegangan, kehilangan nilai yang seharusnya menjaga mereka tetap tegak.


Malam itu, Surabaya tidak hanya diguncang oleh penggerebekan. Ia diguncang oleh kenyataan: ada masa depan yang dicuri diam-diam.


Saya melihat peristiwa ini bukan sebagai berita kriminal biasa, tetapi sebagai potret retaknya benteng kehidupan kita. Ada nilai yang hilang dari remaja kita, ada pengawasan yang melemah, dan ada lingkungan yang membiarkan gelap merayap.


Remaja seperti Rafi bukan lahir sebagai pelaku. Mereka adalah korban dari lingkungan, kekosongan iman, dan minimnya penjagaan sosial. Para ahli pendidikan menyebut remaja sebagai fase pencarian jati diri yang rentan. Mereka mencari makna, tetapi sering terjebak pada pelarian.


Di balik fakta, ada kegagalan bersama.

Namun di balik kegagalan, masih ada harapan, bila kita mau bangkit dan bertindak.


Ketika Nilai Hilang, Gelap Menguasai


Dalam percakapan lanjutan, relawan itu bertanya lagi,

“Rafi, kamu tidak takut? Tidak merasa ini salah?”


Rafi menatapnya dengan mata basah. “Aku… hanya ingin senang sebentar.”


Di sinilah letak luka terdalamnya. Remaja tidak hanya haus perhatian, tetapi juga haus makna. Ketika iman tidak menjadi pegangan, kesenangan sesaat tampak seperti kebahagiaan.


Padahal Allah telah mengingatkan, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh ia akan menjalani kehidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)


Kebahagiaan semu itulah yang membawa mereka pada jurang yang lebih dalam: ketergantungan, kerusakan akal, dan hilangnya masa depan.


Malam itu, petugas menemukan jalur-jalur kecil tempat pengedar berlalu-lalang. Tempat itu bukan sekadar lokasi transaksi; ia telah berfungsi seperti ekosistem gelap yang terorganisasi.


“Gang ini sudah lama seperti ini,” kata seorang warga.

“Kami takut. Ada yang menegur, tapi kadang dibalas ancaman.”


Pengawasan sosial melemah. Negara bekerja, tetapi musuh yang dihadapi sistemik. Narkoba bergerak seperti bayangan, menyusup di sela-sela kelengahan masyarakat.


Kita tidak bisa menutup mata.

Setiap anak yang terjerumus adalah kerugian bangsa. Setiap remaja yang hilang arah adalah masa depan yang terhapus.


Jika kampung-kampung gelap dibiarkan hidup, maka gelap akan memenangkan pertarungan. Dan sebuah bangsa kalah bukan karena perang, tetapi karena tumbangnya generasinya.


Solusi Islam: Cahaya yang Menuntun Jalan Kembali


Islam memandang bahwa akal adalah amanah yang harus dijaga.


Karena itu Allah Swt. memperingatkan, “…Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (QS. Al-Baqarah: 195)


Remaja membutuhkan lingkungan iman: keluarga yang menghadirkan kasih sayang, sekolah yang membangun makna, dan masyarakat yang menyuarakan kebaikan. Ketika iman kuat, mereka tidak mencari pelarian berbahaya. Mereka mengenal kebahagiaan yang sejati: ketenangan bersama Allah.


Rasulullah saw. pernah bersabda, “Setiap anak lahir dalam fitrah, lalu kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi…” (HR. Bukhari dan Muslim)


Fitrah itu perlu dijaga, disinari, dan ditumbuhkan.


Dalam Islam, negara bukan sekadar penonton. Ia menjadi pelindung, pengayom, dan penjaga generasi.


Allah Swt. Berfirman, “Kamu adalah umat terbaik… yang menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali Imran: 110)


Melindungi generasi dari narkoba adalah bagian dari kemakrufan terbesar. Negara wajib memperkuat edukasi, pengawasan, ketahanan keluarga, serta menyediakan rehabilitasi yang manusiawi dan efektif bagi pengguna.


Pengedar adalah sumber kerusakan.

Islam menindak tegas berbagai kejahatan yang merusak masyarakat boleh dihukum dengan ta’zir yang sangat berat, bahkan hingga hukuman mati bila dampaknya luas.


Kaidah fikih menyatakan, “Kebijakan pemimpin harus terikat dengan kemaslahatan rakyat.”


Narkoba merusak akal, merusak keturunan, merusak moral, dan merusak masa depan umat. Karena itu negara wajib memberikan hukuman yang menjerakan bagi pengedar dan bandar, agar jaringan mereka terputus total.


Umar bin Khattab pernah berkata, “Tidak ada kebaikan bagi masyarakat bila pelaku kejahatan dibiarkan hidup bebas di tengah mereka.”


Penindakan bukan bentuk kekerasan; itu perlindungan. Bangsa yang menjaga generasinya berarti menjaga keberlangsungan masa depannya.


Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa melihat kemungkaran, hendaklah ia ubah dengan tangannya…” (HR. Muslim)


Ini bukan hanya perintah individu, tetapi arah gerak masyarakat. Tidak boleh ada sikap diam ketika remaja terancam. Tidak boleh ada pembiaran ketika peredaran narkoba meluas. Masyarakat harus bergerak bersama negara, bukan menggantikan peran negara, tetapi menguatkannya.


Penutup 


Rafi dan teman-temannya adalah cermin kita. Mereka bukan anak nakal. Mereka anak-anak yang kehilangan cahaya dan tidak ada yang menuntun mereka kembali.


Kita tidak boleh membiarkan satu pun anak hilang lagi di gang sempit itu, atau gang-gang serupa di kota mana pun. Kita harus menghadirkan cahaya iman di keluarga, ketegasan negara, keberanian masyarakat.


Karena generasi bukan sekadar angka dalam laporan. Mereka adalah: 

Doa-doa yang dulu kita panjatkan.

Harapan-harapan yang kita titipkan.

Bangsa yang akan kita wariskan.


Saatnya kita menjemput mereka pulang dari gelap, sebelum gelap itu menelan mereka selamanya.


Penulis : Ummu Fahhala, S. Pd. 

(Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi)

أحدث أقدم

Header Ads

Header ADS