May Day 2026: Keadilan Ekologis Menguat, Buruh Soroti Dampak Lingkungan hingga Kota Banjar

BANJAR, LingkarJabar — Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026 diwarnai penguatan isu keadilan ekologis sebagai bagian dari perjuangan buruh. Selain tuntutan upah layak dan jaminan kerja, aktivis menilai kerusakan lingkungan kini menjadi ancaman nyata bagi kehidupan pekerja, termasuk di wilayah Jawa Barat termasuk Kota Banjar, Jawa Barat.


Aktivis perempuan dari Forum Aliansi Kedaulatan Rakyat (FAkAR), Nung Purba, menegaskan bahwa buruh merupakan kelompok yang paling rentan terdampak krisis lingkungan. Menurutnya, pembangunan yang tidak memperhatikan daya dukung alam justru memperbesar risiko bencana yang akhirnya membebani masyarakat kecil.


“Kita tidak bisa bicara kesejahteraan jika lingkungan tempat tinggal dan bekerja hancur. Buruh adalah korban pertama dari bencana ekologis,” ujarnya.


Ambil contoh Bandung Raya, persoalan banjir dan kerusakan infrastruktur menjadi contoh nyata lemahnya tata kelola lingkungan. Kondisi serupa mulai dirasakan di Kota Banjar, di mana isu pengelolaan sampah, potensi banjir, serta berkurangnya ruang terbuka hijau menjadi perhatian warga.


Dampak dari persoalan tersebut dirasakan langsung oleh kalangan buruh. Akses kerja yang terganggu saat banjir, jalan rusak yang memperlambat mobilitas, hingga meningkatnya biaya hidup akibat lingkungan yang memburuk menjadi beban tambahan bagi pekerja.(Johan Wijaya


“Saat banjir melanda, buruh yang paling kesulitan berangkat kerja. Saat jalan rusak, buruh juga yang harus menanggung beban. Ini bukan sekadar isu lingkungan, ini soal keadilan sosial,” kata Nung.


Dalam momentum May Day ini, FAKAR menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, menghentikan eksploitasi alam yang berkedok pembangunan namun memperparah risiko bencana. Kedua, mendorong kebijakan upah layak yang tidak hanya mencukupi kebutuhan dasar, tetapi juga menjamin kehidupan yang bermartabat di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok. Ketiga, memastikan keterlibatan buruh dalam perumusan kebijakan lingkungan.


“Suara buruh adalah suara lapangan. Jangan buat kebijakan tanpa melihat realitas yang kami hadapi,” tegasnya.


Sejumlah kalangan menilai, tanpa pembenahan serius dalam tata kelola lingkungan hidup, termasuk di Kota Banjar, kesejahteraan buruh akan terus tergerus. Integrasi antara kebijakan ketenagakerjaan dan perlindungan lingkungan dinilai menjadi langkah penting untuk menjawab tantangan tersebut.


May Day 2026 pun menjadi penegas bahwa perjuangan buruh tidak lagi berdiri sendiri, melainkan berkelindan dengan isu lingkungan dan ruang hidup. Tanpa lingkungan yang aman dan berkelanjutan, upaya meningkatkan kesejahteraan buruh dinilai tidak akan berjalan optimal dalam jangka panjang.(Johan Wijaya)

Lebih baru Lebih lama

Header Ads

Header ADS